5 November 2018
ASIAN PARA GAMES TAK SEMERIAH ASIAN GAMES 2018
Event sebesar Asian Games telah sukses dilaksankan, bahakan jutaan pasang mata manusia merasa kagum atas apa yang telah dibuat oleh para penyelenggara. Mulai dari opening yang meriah dengan budget yang begitu besar, Presiden Jokowi yang terbang dengan sepeda motor nya, Via Valen yang akhirnya naik kelas dan menjadi suatu kebanggaan baginya dengan maraknya youtuber yang mengcover lagu “yo ayo” kedalam bahasa asing. Semua fenomena Asian Games itu bahkan masih terngiang di dalam benak. Lepas dari itu semua, hadir lah Asian Para Games.
Berharap setara kesuksesannya dengan Asian Games, Asian Para Games justru tidak sebegitu marak dibanding event yang membuat nama jojo menjadi bintang. Namun hal itu tidak membuat para Atlet difabilitas Indonesia berkecil hati. Ada salah satu hal yang paling menarik ketika opening ceremony Asian Para Games kemarin, yaitu sebuah tulisan “disabelity menjadi abilty” Sebuah stigma yang dihancurkan guna mendapatkan energi postif bagi para atlet yang bertanding. Karena menurut saya, mereka yang bertanding bukan mencari siapa yang menang, karena dengan kekurangan, mereka berani menaklukan diri mereka untuk mencapai cita-citanya, dan buat saya mereka semua adalah pemenang.
Sepi penonton pun tidak membuat para atlet mengendurkan semangatnya, alhasil Indonesia sebagai tuan rumah mampu berada di urutan ke 5 dengan jumlah 135 medali, yang terdiri dari 37 emas, 47 perak, dan 51 perunggu. Dengan begitu target yang diberikan Presiden Jokowi tercapai, bahkan lebih karena masuk didalam 5 besar.
Tidak begitu meriah namun tetap berprestasi, itulah yang bisa kita garis bawahi dan angkat topi untuk para atlet Asian Para Games yang sudah berjuang bahkan melewati batas ketahanan tubuhnya demi sebuah lambang garuda di dada. Semoga dengan adanya 2 event besar yang dilakukan di Indonesia kemarin, membuat pemerintah semakin lebih bekerja keras lagi untuk menciptakan potensi atlet-atlet di Indonesia, agar prestasi pun turut menjadi raihan manis di event berikutnya.
Politik VS Sepakbola
Dalam momentum seperti sekarang ini, banyak orang yang mungkin berasumsi “apa bedanya sepakbola dengan politik?” Ketika keduanya saling serang dan menjatuhkan lawan dengan segala macam strategi tempur andalan. Saat kuasa politik memiliki tim sukses dan bahkan kini nampaknya ada juru tempur untuk melibas lawan dengan cara apapun. Sementara di sepakbola juga memiliki suporter yang militan untuk mencapai kemenangan, bahkan sampai beradu otot demi sebuah kejayaan. Namun saya rasa sepakbola lebih murni tanpa memasukan unsur diluar konteks sepakbola itu sendiri. Sekalipun bertempur hanyalah sebatas urusan “sepakbola” (entah itu masalah rival suporter, saling ejek, menjaga reputasi, dan lain-lain).
Tapi kenapa tampak begitu berbeda ketika berbicara soal politik. Seperti kita liat keadaan sekarang, politik semakin asik bercampur dengan unsur agama, suku, dan ras yang mungkin secara sengaja atau tidaknya, agar menambah keseruan didalamnya. Sehingga timbul kebencian dan saling tuding, bahkan merasa paling benar. Tidak putus sampai disitu, politik juga melibatkan orang-orang sumbu pendek yang “mungkin” dianggap turut memeriahkan parade politik yang sedang marak di media. Sehingga media pun serasa dimanjakan dengan leluasa menyajikan kepada kita semua yang terkadang bukan pada dasar kenyataan.
Langganan:
Postingan (Atom)


