Manuisa mempunyai keinginan sesuatu dalam hidupnya demi membahagiakan dirinya sendiri, namun kadang keinginannya itu menjadikannya sebuah ambisi yang perlahan menjadi semakin obsesi. Dan semua itu kadang di imbangi dengan sebuah prinsip, yang juga dapat mengantur sampai dimana keinginan kita, dan apakah kita mampu capai sebuah keinginan itu. Namun tidak semua prinsip dijadikan sebagai patokan kuat dalam hidup, yang kadang harus terpaksa membohongi diri sendiri demi sebuah prinsip, dan meninggalkan apa yang diinginkan. Prinsip juga dapat memuat penjagaan image pribadi sesorang jadi terlihat tertutup dan tidak terbuka, mungkin ada benarnya dengan seperti itu, tapi di kondisi apa dan gimana janganlah semua disamakan demikian. Dengan ini bukan berarti prinsip adalah suatu hal yang tidak penting, penting adanya prinsip itu, namun kapan dan dimana kita menggunakannya harus pada situasi yang sesuai. Perasaan di sejajarkan dengan prinsip, sebuah kolaborasi yang kurang sepadan, ketika perasaan adalah hal yang sesungguhnya dirasakan harus sedikit demi sedikit di pudarkan apabila tidak sesuai dengan sebuah prinsip yang kita pegang. Kenapa bisa begitu?
Langganan:
Posting Komentar (Atom)

Tidak ada komentar:
Posting Komentar